BREAKING NEWS

Teologi Abraham, Ajaran Bapak Monoteisme


 

Nabi Abraham adalah orang Semit, lahir di Urkasdim (Babilonia: Irak Selatan) sekitar tahun 2100 SM atau hidup sekitar delapan generasi setelah Nabi Nuh yang ketika dewasa mengembara hingga ke Haran dan Palestina. Sebelumnya nama beliau adalah Abram (Ibrani) yang memiliki arti "Bapak yang terpuji" atau "Bapak yang dipuji/dimuliakan". Saat berusia sekitar 99 tahun, Perjanjian antara dirinya dengan Sang Pencipta telah mengubah kehidupannya dan mengubah namanya dari Abram menjadi Abraham. Abraham sendiri berasal dari bahasa Semitik Kona di Babilonia yang berarti menyeberang atau mengembara sehingga keturunannya disebut bangsa Ibrani. 


Nabi Abraham adalah Utusan Sang Pencipta, setiap Utusan-Nya diutus dengan tugas yang sama, yakni untuk mengembalikan manusia kepada tujuan hidupnya agar manusia dapat menjalankan fungsi dirinya sesuai dengan kehendak dan perintah-Nya. Utusan Allah adalah orang yang memiliki karakter Tuan (yang sifat dasar-Nya adalah pengasih dan penyayang) sehingga dia dijadikan sebagai sampel atau manusia contoh bagi ummat manusia agar mereka kembali kepada fitrah hidupnya. Alasan Abraham mendapat julukan sebagai "Bapak Monoteisme" adalah karena beliau menyebarkan ajaran monoteisme sebagai isi dari Perjanjiannya kepada Sang Tuan sejati manusia yang merupakan jalan hidup yang benar. 


Perlu diingat bahwa ciri dari kebenaran sejati adalah tidak pernah berubah dan berganti hanya karena perbedaan atau perubahan waktu dan tempat. 


Ajaran yang dianut dan disebarkan oleh beliau adalah "Jangan ada tuan (kecintaan atau sesuatu yang dipatuhi keinginan dan perintahnya) selain Allah". Ini adalah konsep, jalan, atau cara hidup yang ditempuh oleh Nabi Abraham demi terwujudnya kehidupan damai sejahtera di muka bumi yang dijadikan sebagai dasar berpikir, berkata, dan berbuat beliau. Beliau menaati sistem aturan Sang Pemilik Sistem, dan telah menjadikan atau menempatkan Sang Tuan sebagai pengatur hidupnya dalam segala aspek kehidupan. 


Kewajiban setiap makhluk adalah menaati Sang Pencipta dirinya dengan sukarela maupun terpaksa, bukan menaati sesama makhluk atau keinginan hidupnya sendiri. Atas dasar inilah Nabi Abraham mengajak manusia —dengan kesadaran akan kehendak dan perintah-Nya— untuk tunduk patuh kepada sistem ciptaan-Nya. Tatkala manusia hidup sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta, maka manusia akan diberikan nikmat yang selama ini diharapkan oleh orang-orang berakal. Karena itu, mau bagaimanapun, Sang Pencipta manusia adalah yang paling mengenal dan paling mengetahui apa yang sebenarnya baik untuk makhluk ciptaan-Nya. 


Nabi Abraham mengajarkan paham tersebut kepada keturunannya sehingga semua agama samawi tidak bisa dipisahkan dari figur Abraham karena banyak dari keturunannya yang telah menjadi orang pilihan Sang Tuan. Sang Pencipta menjanjikan kepadanya bahwa Dia akan menjadikan beliau dan keturunannya (yang melakukan pekerjaan yang sama dengannya) sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Beliau adalah orang yang sanggup membuktikan kecintaannya kepada Tuan dengan melaksanakan apapun perintah-Nya. 


Demikianlah teologi Abraham yang mengarahkan manusia kepada satu Jalan Hidup yang benar, dan akan menghantarkan manusia kepada berkat berupa kehidupan damai sejahtera di muka bumi yang didasari ketaatan manusia sebagai makhluk kepada satu-satunya pusat ketaatan di alam semesta, Tuan Yang Maha Esa, demi menjalankan tujuan diciptakannya manusia. 


Sekian, terima kasih dan sampai jumpa. 


Written by Marcella Safitri

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image