BREAKING NEWS

 


Puluhan Ribu Siswa SMA Demo di Prancis, Soroti Krisis Pendidikan dan Kekurangan Guru


PARIS, PRANCIS – DNN Indonesia |  Gelombang demonstrasi pelajar sekolah menengah atas (SMA) mengguncang sejumlah wilayah di Prancis. Puluhan ribu siswa dan pendukungnya turun ke jalan memprotes kondisi pendidikan yang dinilai semakin memprihatinkan, terutama di kawasan pinggiran Paris yang memiliki tingkat kemiskinan tinggi.

Aksi yang berlangsung dan meluas hingga Sabtu (3/10/2026) tersebut dipicu sejumlah persoalan pendidikan, mulai dari kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, hingga kondisi sejumlah bangunan sekolah yang dinilai tidak layak.

Protes yang awalnya muncul di kawasan pinggiran Paris kemudian menyebar ke berbagai kota di Prancis. Reuters melaporkan, aksi dan blokade telah berdampak pada lebih dari 1.200 sekolah menengah di berbagai wilayah.

Di sejumlah lokasi, demonstrasi berlangsung tegang dan berujung bentrokan dengan aparat keamanan. Polisi dilaporkan menggunakan gas air mata dan peluru karet dalam beberapa insiden. Ribuan orang juga telah ditangkap selama rangkaian aksi tersebut.

Ketimpangan Pendidikan Jadi Sorotan

Para pelajar menilai kualitas pendidikan tidak merata antara wilayah kaya dan kawasan berpenghasilan rendah. Salah satu daerah yang menjadi sorotan adalah Seine-Saint-Denis, di sebelah utara Paris.

Di wilayah tersebut, sejumlah sekolah menghadapi persoalan kekurangan tenaga pengajar. Bahkan, berdasarkan survei serikat pekerja pendidikan yang dikutip Reuters, sekitar dua pertiga sekolah di departemen tersebut masih memiliki posisi guru yang belum terisi.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap kegiatan belajar mengajar. Di Lycee Le Corbusier, Aubervilliers, misalnya, sejumlah mata pelajaran seperti matematika, humaniora, bahasa Inggris dan olahraga dilaporkan mengalami pembatalan kelas sejak awal tahun ajaran akibat kekurangan guru.

Kisah Maisa, Siswa 17 Tahun yang Ingin Jadi Guru

Salah satu suara yang muncul dalam aksi tersebut datang dari Maisa, seorang siswi berusia 17 tahun yang tinggal di kawasan pinggiran Paris.

Maisa bercita-cita menjadi guru bahasa Inggris. Namun, ia mengaku merasakan langsung dampak kekurangan tenaga pengajar di sekolahnya.

Menurut Maisa, dirinya bahkan pernah mengikuti ujian bahasa Prancis tanpa mendapatkan pengajaran dari guru bahasa Prancis.

“Ini bukan kondisi yang layak untuk belajar,” ujar Maisa, seperti dikutip Reuters.

Bagi para pelajar, persoalan tersebut bukan sekadar masalah fasilitas sekolah, tetapi menyangkut kesempatan memperoleh pendidikan yang setara tanpa melihat tempat tinggal maupun kondisi ekonomi keluarga.

Pemerintah Dihadapkan pada Tekanan

Aksi pelajar tersebut terjadi ketika pemerintah Prancis menghadapi tekanan terkait kebijakan anggaran pendidikan. Pemerintah mengusulkan anggaran pendidikan 2027 sebesar sekitar €65,53 miliar, atau meningkat 1,7 persen, namun kenaikan tersebut berada di bawah tingkat inflasi.

Pemerintah menyatakan pendidikan tetap menjadi prioritas. Namun, para pengunjuk rasa menilai peningkatan anggaran belum cukup untuk menjawab persoalan kekurangan guru dan ketimpangan fasilitas pendidikan di berbagai wilayah.

Di sisi lain, aparat pemerintah mengecam aksi kekerasan dan kerusakan fasilitas yang terjadi dalam sebagian demonstrasi. Kepala Kepolisian Paris Patrice Faure menyerukan agar aksi kembali dilakukan secara damai setelah eskalasi kerusuhan menyebabkan korban luka dan kerusakan properti.

Gelombang demonstrasi ini menjadi salah satu gerakan pelajar terbesar di Prancis dalam beberapa dekade terakhir. Persoalan pendidikan kini berkembang menjadi isu sosial dan politik yang mendapat perhatian luas di tengah perdebatan mengenai kebijakan anggaran pemerintah.

Sumber: Reuters, diolah DNN Indonesia.
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image